MenaraImpian.com - De Topper: Duel Ajax dengan PSV, Tesis vs Antitesis
![]() |
| www.menaraimpian.com
BANDAR TOGEL - Dalam proses pencarian pengetahuan/kebenaran dalam hidup, banyak cara
yang bisa ditempuh. Seperti kata pepatah "Ada banyak jalan menuju Roma",
maka ada banyak cara pula untuk menemukan kebenaran, walau memang belum
tentu kebenaran tersebut akan bersifat absolut untuk selamanya.
Dari
sekian banyak cara dalam menganalisa ataupun menemukan
kebenaran/pengetahuan, ada sebuah cara yang bisa digunakan dan cara
tersebut masih cocok untuk digunakan hingga kini. Cara tersebut
dijabarkan oleh seorang filsuf asal Jerman, Georg Wilhelm Friedrich
Hegel, dalam bentuk model dialektika yang dikenal sebagai dialektika
Hegel.
Sampai saat ini, model dialektika ini masih cocok
digunakan sebagai salah satu cara untuk mencari kebenaran/pengetahuan
dalam hidup. Dialektika yang juga kerap disebut sebagai Ritme Tiga
Hentakan ini terdiri dari tiga istilah, yaitu Tesis, Antitesis, serta
Sintesis.
Tesis dan Antitesis, merujuk pada model dialektika
Hegel, adalah dua nilai yang saling bertabrakan dan bertentangan dalam
hidup. Kedua istilah ini mirip-mirip dengan pro dan kontra, dua kutub
yang kerap muncul kala sesuatu dalam hidup terjadi.
Namun meski
keduanya saling bertentangan, jika keduanya saling bertemu dan bertegur
sapa dalam kehidupan, gejolak dari kedua istilah tersebut memunculkan
sebuah istilah baru, yaitu Sintesis. Sintesis ini bisa dianggap sebagai
hasil pencocokan nilai dari Tesis dan Antitesis, yang kelak juga akan
menjadi Tesis jika ia menemukan Antitesis yang baru.
Karena
sifatnya yang adaptable dan masih relevan digunakan sampai sekarang,
maka tak heran dialektika ini, walau tak disadari masih tetap digunakan
oleh masyarakat sampai sekarang. Contoh paling sederhana adalah dalam
bergaul, yaitu ketika Tesis yang berada di dalam diri kita harus
menyesuaikan diri dengan Antitesis yang berada di dalam diri orang lain
untuk membentuk sebuah Sintesis yang bernama pertemanan.
Adaptability
dari Tesis dan Antitesis ini membuatnya bisa juga digunakan untuk
membedah dua kutub sepakbola Belanda, yaitu Ajax Amsterdam dan PSV
Eindhoven. Keduanya menyajikan rivalitas, yang berawal dari Tesis dan
Antitesis yang terkandung di dalam diri mereka masing-masing.
Pertemuan Tesis (Ajax) dengan Antitesis (PSV)
Dalam
percaturan sepakbola Belanda, nama Ajax Amsterdam adalah nama yang
tidak boleh dikesampingkan. Memiliki 33 gelar juara Eredivisie, 18 gelar
Piala KNVB (Piala Liga Belanda), serta pernah merasakan menjadi juara
Liga Champions dalam masa yang berbeda (masa Johan Cruyff dan masa Louis
van Gaal) menjadikan Ajax sebagai klub tersukses di Belanda.
Kesuksesan
Ajax di percaturan sepakbola Belanda juga disertai dengan filosofi
sepakbola mereka yang sudah tertanam kurang lebih sejak 50 tahun lalu.
Filosofi Total Football, yang dikembangkan oleh Rinus Michels
(sebenarnya ada andil dari orang Inggris bernama Vic Buckingham dan Jack
Reynolds) menjadi filosofi sepakbola yang digemari dan diterapkan juga
di beberapa belahan negara Eropa dan dunia (termasuk Barcelona).
Yang
menjadikan segala pencapaian Ajax ini menjadi lebih mengesankan adalah
mereka mendapatkan semua gelar-gelar tersebut dengan bertumpu pada
talenta-talenta berbakat hasil binaan akademi. Siapa tak kenal nama
Johan Cruyff, Marc Overmars, De Boer bersaudara, Wesley Sneijder, Rafael
van der Vaart, bahkan Rinus Michels? Mereka semua adalah hasil binaan
akademi Ajax yang mengharumkan nama Ajax sekaligus menjadikan Ajax
sebagai role model pemanfaatan pemain hasil binaan akademi.
Dengan
segala yang sudah diraih oleh Ajax, mereka pun menjadi sebuah Tesis di
persepakbolaan Belanda. Memiliki filosofi sepakbola sendiri, serta
memanfaatkan pemain binaan akademi untuk meraih sukses menjadikan Ajax
sebagai sebuah bahan percontohan bahwa dengan menggunakan pemain
akademi, gelar masih bisa diraih.
Namun tak semua sepaham dengan
Ajax ini. Muncullah sebuah Antitesis bagi Ajax di belahan Belanda yang
lain, tepatnya di kota Eindhoven. Klub bernama PSV-lah yang menjadi
Antitesis dari klub yang bernama Ajax di kancah persepakbolaan Belanda.
Jika hampir semua klub di Belanda meniru apa yang dilakukan Ajax, lain
hal dengan PSV.
Klub yang disponsori oleh salah satu perusahaan
elektronik ternama di dunia, Phillips, ini memiliki caranya sendiri
untuk meraih gelar dan mencapai kesuksesan di kancah sepakbola. Jika
Ajax memilih untuk memanfaatkan pemain binaan akademi, PSV justru meraih
sukses dengan memanfaatkan talenta-talenta yang sudah/sedang dalam
perjalanan menuju "jadi".
Tercatat ada beberapa nama besar di
dunia yang bukan berasal dari akademi PSV tapi berhasil mengantarkan PSV
menjadi juara. Ronaldo Lima, Ruud Gullit, Jaap Stam, Arjen Robben,
bahkan ada nama Park Ji-sung dan Lee Young-pyo yang juga pernah menjadi
bagian dari skuat PSV yang menjuarai Eredivisie pada musim 2002/2003 dan
2004/2005.
Dengan caranya sendiri, yang berbeda dari Ajax, PSV
pun berhasil menjadi salah satu klub yang tak kalah sukses di Belanda.
Total 23 trofi Eredivisie dan Sembilan trofi Piala KNVB mendarat di
lemari piala PSV.
Mereka pun mewujud menjadi Antitesis dari
Ajax. Oleh karena itu, pertemuan keduanya kerap menjanjikan pertandingan
yang sengit nan seru.
De Topper, Label Pertemuan Untuk si Tesis (Ajax) dan si Antitesis (PSV)
Selayaknya
pertemuan dua tim besar dalam sebuah liga, pertemuan antara Ajax dan
PSV sebagai dua kutub di sepakbola Belanda pun memiliki namanya sendiri,
yaitu de Topper. Laga ini menjadi salah satu laga panas di Belanda,
tempat bertemunya dua filosofi dan pengembangan sepakbola yang berbeda.
Nama de Topper sendiri, jika dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia
berarti duel memperebutkan yang teratas.
Setidaknya, sampai saat
ini de Topper sudah menghasilkan 131 pertemuan. Ajax sebagai si Tesis
masih unggul dalam laga ini dengan torehan 56 kemenangan, beda empat
kemenangan dari PSV yang mencatatkan 52 kemenangan, dan sisanya (23
laga) berakhir imbang. Pertemuan keduanya pun selalu menghasilkan sebuah
atmosfer yang menarik, walau tidak sepanas de Klassieker yang
mempertemukan si seniman dari Amsterdam dan si pekerja dari Rotterdam.
Tapi
dalam pertemuan keduanya, bukan hanya tensi yang berasal dari emosi
saja yang lahir. Ada sebuah adu pemikiran yang ditunjukkan oleh kedua
klub, saat si Tesis (Ajax) yang percaya bahwa dengan pemain akademi bisa
meraih sukses, melawan si Antitesis (PSV) yang merasa bahwa dengan
memanfaatkan talenta yang sudah jadi, gelar juara pun bisa diraih.
Maka,
tak heran bahwa laga ini pun dinobatkan sebagai salah satu laga panas
di Belanda. Bukan karena sekedar perebutan gelar juara ataupun trofi
Piala Liga. Lebih dari sekadar itu, ada sebuah duel pemikiran yang
terjadi antara Ajax dan PSV.
Seperti yang sudah
disebutkan dalam uraian mengenai dialektika Hegel, model dialektika ini
akan terus berkembang seiring dengan kehidupan social masyarakat yang
juga berjalan dinamis. Ini berarti perseteruan antara Tesis dan
Antitesis akan terus terjadi. Walaupun kelak akan ditemukan Sintesis
yang merupakan hasil gesekan antar keduanya, akan muncul Anti-Tesis baru
yang membuat Sintesis yang sudah ada kembali menjadi Tesis, dan begitu
seterusnya.
Oleh karena itu, pertemuan antara Ajax sebagai si
Tesis dan PSV sebagai si Antitesis pun akan semakin berkembang
sedemikian rupa, seiring dengan perkembangan yang dialami oleh kompetisi
domestik itu sendiri. Namun, setidaknya, dari pertemuan antara si Tesis
Ajax dengan si Anti-Tesis PSV ini mulai menemukan Sintesisnya, bahwa
Eredivisie adalah salah satu kompetisi yang menarik untuk disimak karena
menyajikan dua pemikiran dari dua klub berbeda.
|







0 comments:
Post a Comment